.widgetshare {font:bold 12px/20px Tahoma !important; background: #333;border: 1px solid #444; padding: 5px 4px; color: #fff !important; margin-top: 10px;} .widgetshare a{font:bold 12px/20px Tahoma !important; text-decoration: none !important; padding: 5px 4px; color: #fff !important; border: 1px solid #222; transition: all 1s ease;} .widgetshare a:hover {box-shadow: 0 0 5px #00ff00; border: 1px solid #e9fbe9;} .fcbok { background: #3B5999; } .twitt { background: #01BBF6; } .gplus { background: #D54135; } .digg { background: #5b88af; } .lkdin { background: #005a87; } .tchno { background: #008000; } .ltsme { background: #fb8938; }

Pages

Minggu, 26 Oktober 2014

IMAM BUKHARI DAN KITABNYA AL-JAMI’ AS-SHAHIH (194-256 H/ 810-870 M)




Imam Bukhari, mungkin nama inilah yang paling banyak disebut orang ketika membicarakan hadis sahih atau hadis secara umum, atau ketika menelaah kitab-kitab hadis. Dia ibarat matahari yang bersinar dalam dunia hadis, yang mendapat gelar terhormat “amȋrul mukminȋn” dalam bidang hadis.

         A. Riwayat Imam Bukhari
a.      Silsilahnya
Beliau adalah amȋrul mukminȋn dalam hadis, nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah. Kakeknya bernama Bardizbah beragama Majusi, agama kaumnya. Putranya yang bernama al-Mughirah memeluk Islam dibawah bimbingan Yaman al-Ju’fi yang merupakan gubernur Bukhara, sehingga dia dipanggil Mughirah al-Ju’fi.
Sedangkan riwayat kakeknya, Ibrahim tidak jelas. Namun, ayahnya yang bernama Ismail adalah ulama besar dalam bidang hadis. Ia belajar hadis dari Hammad ibn zayd dan imam Malik. Hadis-hadisnya diriwayatkan oleh orang Irak. Riwayat hidupnya ditulis oleh Ibnu Hibban dalam kitab as-Tsiqqȃt. Begitu juga putranya, imam Bukhari, menulis riwayatnya dalam at-Tȃrikh al-Kabȋr.
Ayanya imam Bukhari adalah seorang yang alim, wara’, dan taqwa. Menjelang wafatnya beliau berkata:”di dalam hartaku tidak terdapat uang yang haram atau yang subhat sedikitpun”. Dengan demikian, jelaslah bahwa imam Bukhari hidup dalam lingkungan keluarga yang berilmu, taat beragama, dan wara;, serta tidak heran bila dia mewarisi sifat-sifat mulia dari ayahnya.
b.      Kelahiran dan pertumbuhannya
Imam Bukhari dilahirkan di Bukhara setelah sholat jum’at 13 Syawal 194 H. Ayahnya meninggal ketika beliau masih kecil dan meninggalkan banyak harta yang cukup untuk hidup dengan baik dan terhormat. Dia dibina dan dididik oleh ibunya dengan tekun dan penuh perhatian. Sejak kecil, ia selalu mendapatkan lindungan dan bimbingan Allah. Ada riwayat yang mengatakan bahwa pada waktu kecil, matanya tidak bisa melihat. Ibunya sangat sedih karenanya, dan selalu berdo’a untuk kesembuhannya. Lalu dia bermimpi dengan Nabi Ibrahim a.s. yang berkata:”Wahai ibu, Allah telah menyembuhkan penyakit mata anakmu karena do’amu”. Esok harinya, sang ibu melihat mata anaknya sudah bercahaya. Maka duka hati ibu berganti dengan kegembiraan.
c.       Kecerdasan dan keunggulannya
Kecerdasan imam Bukhari sudah tampak sejak kecil. Allah menganugerahinya daya hafalan yang sangat kuat, jiwa yang cemerlang. Ketika berusia sepuluh tahun, beliau sudah banyak menghafal hadis. Kemudian dia menemui para ulama dan imam di negerinya untuk belajar hadis, bertukar pikiran dan berdiskusi dengan mereka. Sebelum berusia 16 tahun, dia sudah hafal kitab Ibn al-Mubarak dan Waki’, serta memahami pendapat ahlu ra’yi (rasionalis), usul, dan mazhab mereka.
d.      Perjalanan ke Mekah dan Madinah
Pada tahun 210 H, Bukhari bersama ibu dan sudaranya pergi ke Baitullah untuk menunaikan ibadah haji. Kemudian sudaranya yang berusia lebih tua  dari dia pulang ke Bukhara. Sedangkan dia memilih tinggal di Mekkah, salah satu tempat pusat menimba ilmu di Hijaz. Di kota itulah dia menimpa diri untuk mereguk ilmu yang diinginkan. Kadangkala dia pergi ke Madinah. Di kedua kota suci inilah ia menulis sebagian karyanya dan menyusun dasar-dasar al-Jȃmi’ as-Shahȋh.
Imam Bukhari menulis kitab at-Tȃrikh al-Kabȋr di sisi makam Rasulullah Saw. dan sering menulis di malam hari di bawah terang bulan. Dan mengarang tiga kitab at-Tȃrikh as-Shaghȋr (yang kecil), al-Awshat (yang sedang), dan al-Kabȋr (yang besar). Ketiga buku ini menunjukkan kemampuannya yang luar biasa mengenai rijȃlul hadis. Sehingga dia pernah berkata: “Sedikit sekali yang belum aku ketahui riwayat orang-orang yang ku tulis dalam tarikh itu”.

e.       Lawatannya ke berbagai negeri
Imam Bukhari telah melakukan ekspedisi ke berbagai negeri, dan hampir seluruh negeri Islam di di singgahinya. Beliau pernah berkata: “Saya telah pergi ke Syam, Mesir, Jazirah dua kali, Basrah empat kali, dan saya bermukim di Hijaz selama enam tahun, dan tak dapat dihitung lagi berapa kali saya pergi ke Kufah dan bagdad untuk menemui ulama hadis.
Bagdad pada waktu itu ibu kota Dinasti Abbasiyah adalah gudang ilmu pengetahuan dan ulama. Di negeri itu beliau sering menemui imam Ahmad bin Hanbal. Imam Ahmad menganjurkan untuk tinggal di Bagdad, dan melarangnya tinggal di Khurasan.
Dalam setiap perjalanannya, imam Bukhari selalu mengumpulkan dan menulis hadis. Di tengah malam beliau bangun menyalakan lampu dan menulis setiap hadis yang terlintas dalam benaknya, kemudian lampu itu dimatikan. Hal ini kurang lebih dilakukan dua puluh kali setiap malam. Begitulah aktifitas imam Bukhari, seluruh hidupnya dicurahkan untuk ilmu pengetahuan.
f.       Sambutan kedatangan Bukhari di kota Naisabur
Pada tahun 250 H, Imam Bukhari mengunjungi Naisabur dan penduduknya menyambut gembira atas kedatangannya, termasuk ulama besar az-Zuhaili beserta ulama lainnya. Muslim meriwayatkan, ketika Muhammad ibn Ismail tiba di Naisabur, aku belum pernah melihat seorang gubernur beserta seluruh ulama daerah itu memberikan sambutan seperti yang mereka berikan kepada Bukhari. Mereka menyambut kedatangannya dari dari luar kota sejauh dua atau tiga marahalah (88 atau 132 kilometer).
Az-Zuhaili berkata: “Siapa yang ingin menyambut Muhammad ibn Ismail besok, hendaklah menyambutnya, sebab aku juga ikut menyambutnya”. Pagi harinya, Muhammad ibn Yahya az-Zuhaili beserta seluruh ulama Naisabur menyambut kedatangan imam Bukhari. Beliaupun memasuki negeri itu dan tinggal di perkampungan orang-orang Bukhara. Selama menetap di negeri itu, Bukhari mengajar hadis. Az-Zuhaili menganjurkan kepada para penduduk agar belajar kepada Bukhari. Dia berkata: “Pergilah kalian kepada orang shaleh dan alim itu, dan belajarlah kepadanya”.
g.      Fitnah
Sebagian orang yang merasa iri menghembuskan angin fitnah dengan menuduh Bukhari berkata “al-Qur’an itu makhluk”. Sehingga menimbulkan kemarahan gurunya (az-Zuhaili) kepadanya. Dia berkata: “Siapa berpendapat bahwa lafaz al-Qur’an itu adalah makhluk, maka dia adalah ahli bid’ah. Ia tidak boleh ditemui dan majlisnya tidak boleh dikunjungi. Setiap yang datang kepadanya hendaklah dicurigai”. Akibatnya, orang-orang mulai menjauhinya, kecuali Muslim dan Ahmad bin Salamah. Az-Zuhaili memperingatkan: “Siapa yang berpendapat bahwa al-Qur’an itu makhluk, tidak boleh menghadiri majlis kami”. Rupanya perkataan itu ditujukan kepada Muslim yang masih sering mendatangi Bukhari. Mendengar ucapan seperti itu, Muslim mengambil selendangnya dan meninggalkan majlis az-Zuhaili, disaksikan oleh murid-murid lainnya. Kemudian ia mengirimkan catatan pelajaran yang diterima dari az-Zuhaili.
h.      Bukhari bebas dari tuduhan
Sebenarnya imam Bukhari bebas dari tuduhan itu. Ada satu riwayat yang mengatakan, seorang lelaki berdiri di hadapannya lalu bertanya,”Bagaimana pendapatmu tentang lafaz al-Qur’an, makhluk atau bukan?”. Bukhari berpaling dari orang itu dan tidak menjawabnya, meskipun orang itu sudh bertanya tiga kali. Orang itu terus mendesaknya, akhirnya Bukhari menjawab: “al-Qur’an adalah firman Allah, bukan makhluk. Perbuatan manusia adalah makhluk, dan fitnah adalah bid’ah”. Yang dimaksud dengan “perbuatan makhluk “ adalah “bacaan atau ucapan makhluk”. Pendapat yang dikatakan Bukhari tersebut adalah pendapat ulama salaf mengenai perbedaan antara “bacaan” dan “yang dibaca”. Tetapi karena sudah dirasuki oleh perasaan benci dan iri hati, membuat mereka buta dan tali.
Sebuah riwayat menceritakan, Bukhari pernah berkata: “Iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang. Al-Qur’an adalah kalam Allah, bukan makhluk. Sahabat utama Rasulullah Saw. adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali. Dengan berpegang pada keyakinan dan keimanan inilah aku hidup, mati, dan dibangkitkan kembali insya Allah”.
Beliau juga pernah berkata bahwa: “Siapa yang menuduhku berpendapat bahwa lafaz al-Qur’an itu adalah makhluk, maka dia adalah pendusta”.
Maka Zuhaili bertambah marah kepadanya, dan berkata: “orang itu tidak boleh tinggal bersamaku di negeri ini”. Lalu Bukhari berpendapat, keluar dari negeri ini adalah lebih baik baginya, demi menjaga nama baik dan meredakan fitnah yang menimpanya. Dan beliau pun keluar dari negeri itu.
i.        Pulang ke Bukhara
Setelah keluar dari Naisabur, Bukhari pulang ke negerinya sendiri, yaitu Bukhara. Masyarakat negeri itu memeriahkan kedatangannya dan mendirikan tenda-tenda sejauh tiga mil dari kota. Seluruh rakyat menyambutnya dengan menabur uang dinar dan dirham sebagai ungkapan rasa kegembiraan. Selama tinggal di negerinya sendiri, beliau mengadakan pengajian dan pengajaran hadis.
Namun fitnah berhembus lagi menimpa dirinya. Penguasa Bukhara Khalid ibn Muhammad az-Zuhaili mengirimkan utusan kepada imam Bukhari, agar ia mengirimkan dua buah karangannya al-Jȃmi’ as-Shahȋh dan at-Tȃrikh. Namun beliau keberatan memenuhi permintaan itu. Melalui delegasi itu, ia berpesan kepada Khalid: “Aku tidak akan merendahkan ilmu dengan membawanya ke istana. Jika sikap ini tidak berkenan di hati tuan, engkau adalah raja dan berkuasa melarang saya untuk mengajar. Agar di hari kiamat nanti aku mempunyai alasan di sisi Allah, bahwa sebenarnya aku tidak menyembunyikan ilmu”. Mendengar jawaban seperti itu, raja menjadi marah dan berusaha mencari alasan yang dapat mengeluarkan Bukhari dari negerinya dengan membuat fitnah yang dapat menyudutkan beliau. Akhirnya imam Bukhari di usir dari negeri itu.
Imam Bukhari mendo’akan tidak baik terhadap Khalid yang telah mengusirnya secara tidak sah. Kurang dari sebulan kemudian, Ibnu Thahir menjatuhi hukuman kepada Khalid. Dia dipermalukan di muka umum dengan menunggang keledai betina, dia dihina dan dipenjara.
j.        Imam Bukhari wafat
Penduduk Samarkand memohon kepada imam Bukhari agar menetap di negeri mereka. Beliau pergi untuk memenuhi permintaan itu. Ketika sampai di Khartand –desa kecil yang terletak enam mil dari kota Samarkand- beliau singgah di kota itu untuk mengunjungi keluarganya yang hidup di daerah itu. Di desa itu, imam Bukhari jatuh sakit dan menemui ajalnya.
Dia wafat pada malam idul fitri tahun 256 H (31 Agustus 870 M) dengan usia 62 tahun kurang 13 hari. Sebelum wafat, beliau berpesan agar jenazahnya dikafani tiga helai kain, tanpa baju dan sorban. Jenazahnya dimakamkan setelah zuhur di hari idul fitri itu. Dia telah menempuh perjalanan hidup yang panjang dihiasi amal yang mulia. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan rida-Nya kepadanya.

k.      Guru imam Bukhari
Dalam perjalanannya ke berbagai negeri, imam Bukhari bertemu dengan guru-guru terkemukan yang dapat dipercaya. Beliau mengatakan: “aku menulis hadis dari 1.080 guru, yang semuanya adalah ahli hadis, dan berpendapat bahwa iman itu adalah ucapan dan perbuatan”.
Diantara gurunya ialah: Ali bin al-Madini, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf al-Firyabi, Maki bin Ibrahim al-Balkhi, Muhammad bin Yusuf al-Baykand, Ibnu Rawaih, dan lain-lain. Jumlah guru yang hadisnya diriwayatkan dalam kitab sahihnya adalah 289 guru.
l.        Murid-muridnya
Di antara murid-muridnya yang menonjol ialah Muslim bin al-Hajjaj, Tirmiziy, Nasa’iy, Abu Duad, Ibnu Khuzaimah, Hammad bin Syakir an-Nasawiy, Mansur bin Muhammad al-Bazdawi, dan lain-lain. 
m.    Kekuatan hafalan dan kecerdasan yang luar biasa
kekuatan hafalan, kecerdasan, pengetahuan tentang perawi hadis dan ilatnya  yang terdapat pada Bukhari merupakan salah satu tanda kekuasaan dan kebesaran Allah Swt. Allah telah memeliharanya dan para penghimpun hadis yang lainnya untuk menghafal dan menjaga sunnah Nabi Muhammad Saw. Imam Bukhari berkata: “saya hafal hadis di luar kepala sebanyak 100.000 hadis sahih dan 200.000 hadis yang tidak sahih”.
Kekuatan hafalan imam Bukhari, keluasan pengethuannya dan kecerdasannya sangat mengagumkan. Ketika beliau tiba di Bagdad, ulama hadis berkumpul untuk menguji kemampuannya. Mereka mencampur aduk dan memutar balik sanad dan matan 100 hadis. Matan hadis satu diberi sanda hadis lainnya, dan sanad hadis yang satu diberi matan hadis lainnya. Sepuluh ulama tampil dengan masing-masing membawa sepuluh hadis yang sudah tak karuan itu. Orang pertama mengajukan sapuluh hadis, setelah selesai membacanya, imam Bukhari mengatakan: “Saya tidak menegtahui hadis yang anda baca tadi”. Sampai kepada penanya yang kesepuluh, imam Bukhari tetap mengatakan seperti itu. Hadirin yang tidak tahu, memastikan Bukhari tidak mampu menjawabnya. Sedangkan para ulama saling berkata “hebat benar orang ini”.
Setelah para penguji selesai membaca hadis-hadis itu, imam Bukhari melihat penanya pertama dan berkata: “Hadis pertama tadi, yang benar isnadnya adalah begini”. Demikianlah imam Bukhari menjawab satu persatu dari sepuluh hadis itu. Lalu dia menoleh kepada penanya kedua sampai kesepuluh. Dia menyebutkan seluruh hadis yang diputar balikkan itu, lalu membaca isnad dan matan hadis yang sebenarnya tanpa ada kesalahan sedikitpun. Maka para ulama Bagdad menyatakan kekagumannya atas kecerdasan dan hafalan imam Bukhari, serta memberi gelar kepadanya “imam hadis”.
Sebagian hadirin mengatakan: “yang mengagumkan, bukanlah ia mampu menjawab secara benar, melainkan bagaimana dia mampu menyebutkan hadis yang sanad dan matannya tidak karuan seperti yang telah dibacakan penanya, padahal dia hanya mendengar sekali saja”.
Imam Bukhari pernah berkata: “Saya tidak meriwayatkan hadis yang saya terima dari sahabat dan tabi’in sebelum saya mengetahui tanggal kelahiran, hari wafatnya dan tempat tinggalnya. Saya juga tidak akan meriwayatkan hadis mauquf dari sahabt dan tabi’in, kecuali ada dasarnya yang saya ketahui dari kitabullah dan sunnah Rasulullah Saw.
n.      Pujian para ulama
Karena keluasan ilmu dan kekuatan hafalannya, maka para guru, kawan, dan generasi sesudahnya memujinya. Seseorang pernah bertanya kepada Qutaibah bin Sa’id tentang imam Bukhari. Beliau menjawab: “saya telah berjumpa dengan ahli hadis , ahli ra’yi, ahli fiqih,ahli ibadah, dan orang zuhud, namun saya belum pernah bertemu dengan orang seperti Muhammad bin Ismail al-Bukhari”.
Abu Bakar ibn Khuzaimah mengatakan: “Di kolong langit ini tidak ada ahli hadis yang melebihi Muhammad bin Ismail”. Abu Hatim ar-Raziy berkata: “Khurasan belum pernah melahirkan seorang yang melebihi Bukhari. Di Irak pun tidak ada yang melebihinya”.
Al-Hakim menceritakan dengan sanad lengkap, bahwa Muslim yang menulis kitab “Sahih Muslim” datang dan mencium antara kedua mata Bukhari dan berkata: “Guru biarkan aku mencium kedua kakimu, engkaulah imam ahli hadis dan dokter penyakit hadis”.
Sanjungan dari generasi sesudahnya cukup diwakili oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy yang berkata: “Seandainya pintu pujian dan sanjungan masih terbuka bagi generasi sesudahnya, niscaya kertas dan nafas akan habis, karena ia bagaikan laut yang tidk berpantai”.
o.      Sifat dan akhlak imam Bukhari
Imam Bukhari berbadan kurus, berperawakan sedang, kulitnya kecoklatan, makannya sedikit, pemalu, pemurah, dan zuhud. Hartanya banyak disedekahkan baik secara terang-terangan  atau sembunyi, terutama untuk kepentingan pendidikan dan pelajar.
Imam Bukhari sangat berhati-hati dan sopan berbicara, terutama dalam mengkritik para perawi. Terhadap perawi yang diketahui jelas kebohongannya, ia cukup mengatakan “فيه نظر(perlu dipertimbangkan), تركوه (ahli hadis meninggalkannya),   سكتوا عنه (mereka tidak menghiraukannya). Perkataannya yang tegas terhadap perawi  yang tercela adalah “منكر الحديث (hadisnya diingkari).
Meskipun beliau sangat sopan dalam mengkritik perawi, namun ia meninggalkan hadis dari perawi  yang diragukan. Beliau berkata: “Saya meninggalkan 10.000 hadis yang diriwayatkan oleh perawi  yang dipertimbangkan, dan juga meninggalkan hadis yang jumlahnya sama atau lebih, karena menurut pandanganku, perawinya perlu dipertimbangkan”.
p.      Menghormati ilmu
Imam Bukhari memiliki jiwa mulia, terhormat, sangat membaggakan dan memuliakan ilmu, juga senantiasa menjaga agar ilmunya tidak direndhakan dan tidak dibawa-bawa ke tempat para penguasa. Sikap seperti ini merupakan sifat terpuji para ulama rabbani yang tidak takut kecuali hanya kepada Allah, dan tidak meu mengajar karena mengharap kemewahan dan kedudukan.
q.      Pandai memanah
Imam Bukhari pernah belajar memanah sampai pandai, sehingga ada yang mengatakan bahwa sepenjang hidupnya hanya dua kali panahnya meleset dari sasarannya. Karena dilandasi hadis Rasul yang menganjurkan kaum muslimin  belajar memanah dan berperang.
r.       Karya imam Bukhari
Imam Bukhari mempunyai karya tulis yang cukup banyak, diantaranya ialah: al-Jȃmi’ as-Shahȋh, Adab al-Mufrad, at-Tȃrikh as-Shaghȋr, at-Tȃrikh al-Awshat,  at-Tȃrikh al-Kabȋr, al-Musnad al-Kabȋr, kitab al-‘Ilal, kitab ad-Dhu’afa’, kitab al-Kuna, dan lain-lain.
Sebagian dari karya-karyanya tersebut sudah dicetak, dan sebagian lagi masih berupa tulisan tangan, sebagian lagi dikenal melalui sebagian ulama yang menukilnya. Yang paling terkenal dan beredar luas sepanjang masa adalah kitab al-Jȃmi’ al-Shahȋh li al-Bukhȃriy.

             B. Kitab Al-Jȃmi’ as-Shahȋh
  Imam Bukhari menyusun kitab yang khusus memuat hadis-hadis yang sahih saja dengan nama al-Jȃmi’ al-Musnad as-Shahȋh al-Mukhtashar min Umȗri Rasȗllah wa Sunanihi wa Ayyamihi, yang lebih dikenal dengan Shahȋh al-Bukhȃriy. Penyusunan kitab ini memberikan sumbangan yang sangat berharga untuk mempermudah mengetahui dan membahas hadis bagi para pelajar terutama generasi selanjutnya.

a)      Faktor pendorong penyusunan kitab al-Jȃmi’ as-Shahȋh
Imam Bukhari meyusun kitab ini karena atas dorongan dan anjuran gurunya yang bernama Ishaq bin Rawaih  yang berkata: “Hendaklah kamu menyusun kitab yang khusus berisi sunnah (hadis) Rasulullah yang sahih”. Bukhari berkata:”ucapan itu membekas dan merasuk dalam hatiku, lalu aku menyusun al-Jȃmi’ as-Shahȋh”.
Beliau juga berkata: “Aku bermimpi bertemu Nabi Saw., seolah-olah aku berada di depannya, sambil membawa untuk menjaga beliau dari gangguan. Lalu aku bertanya pada ahli ta’wil mimpi. Dia menjelaskan kepadaku: “Engkau akan mencegah pemalsuan hadis Rasulullah”. Mimpi inilah yang mendorong untuk membuat kitab al-Jȃmi’ as-Shahȋh.
b)     Metode Imam Bukhari dalam menyusun kitab al-Jȃmi’ as-Shahȋh
Imam Bukhari menempuh cara tertentu shingga kesahihan hadisnya dapat dipertanggung jawabkan. Ia berusaha keras untuk meneliti keadaan para perawi , untuk memastikan kesahihan hadis-hadis yang diriwayatkan. Beliau juga membanding-bandingkan hadis yang satu dengan yang lainnya, meneliti dan memilih hadis yang menurutnya paling sahih. Sebagaimana penegasan imam Bukhari: “Saya menyusun kitab al-Jȃmi’ as-Shahȋh ini  adalah hasil saringan dari 600.000 hadis selama 16 tahun”.
Di samping metode ilmiah, dalam penelitiannya, ia juga tidak mengabaikan aspek ruhani. Salah satu muridnya yang bernama al-Firbari mengatakan:”Aku mendengar Muhammad Ismail al-Bukhari berkata bahwa: “Aku menyusun al-Jȃmi’ as-Shahȋh ini di masjidil haram, aku tidak akan memasukkan satu hadis pun ke dalam kitab itu sebelum sholat istikharah dua rakaat, dan setelah itu aku betul-betul meyakini bahwa hadis itu sahih”.
Maksudnya, imam Bukhari mulai menyusun bab dan dasar-dasarnya di Masjidil Haram, kemudian menulis pendahuluan dan pemhasannya di Raudhah (tempat antara makam Nabi dan mimbar). Setelah itu beliau mengumpulkan hadis dan menempatkan pada bab-bab yang sesuai. Semua itu dilakukan di Mekah, Madinah, dan beberapa negara tempat pengembaraannya. Dengan cermat, Bukhari menyusun kitab al-Jȃmi’ as-Shahȋh selama enam belas tahun, beliau menelitu, menyaring, dan memilih hadis sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkannya. Sehingga terwujudlah kitab itu sesuai keinginannya.
Jerih payah maksimal yang dicurahkan untuk menyusun kitab itu, membuat al-Jȃmi’ as-Shahȋh mencapai kebenaran dan mempunyai kedudukan tinggi di hati para ulama dan seluruh umat Islam. Sudah tepatlah bila ia mendapat prediksi sebagai “kitab hadis Nabi yang paling sahih”.

c)      Superioitas daya kritis Bukhari
Untuk menta’dil (mengaggap adil) dan mentarjih (menganggap cacat para perawi), serta mengkritis matan hadis dan periwayatannya, Bukhari mempunyai beberapa syarat yang ketat. Pandangan dan kemampuannya yang luar biasa diperoleh dari pengalaman mengkaji dan mengkritik sanad dan matan hadis. Seperti seorang dokter spesialis yang sudah lama menggeleti dunia kedokteran. Dia mampu mendiagnosa dan menemukan penyakit, serta penyebab timbulnya penyakit itu. Atau seperti ahli barter uang yang ulung dan berpengalaman. Dia bisa membedakan uang yang masih baik dan berlaku dengan uang yang sudah tidak berlaku lagi.
Kemampuan untuk membedakan hadis yang sahih dengan yang tidak sahih dimiliki oleh hampir seluruh ulama dan kritikus hadis. Namun kemampuannya berbeda-beda sesuai dengan ketentuan yang mereka pakai dalam mengkritik hadis, serta kemampuan dan wawasan mereka masing-masing. Perbandingan antara tokoh ahli hadis dengan seorang dokter yang ditujukan kepada Bukhari ini dapat dilihat dari pernyataan imam Muslim kepadanya: “wahai maha guru pemimpin para ahli hadis dan dokter hadis yang dapat menyingkirkan penyakitnya”. Perbandingan dia dengan ahli barter uang dilihat dari ucapan para ulam: “peneliti hadis yang cermat seperti ahli barter uang”.

d)     Kriteria hadis sahih menurut imam Bukhari
Imam Bukhari menentukan standar kriteria hadis sahih. Kriteria tersebut berdasarkan hasil penelitian ulama kemudian dikenal dengan syurȗt al-Bukhari (syarat-syarat Bukhari). Maksudnya adalah syarat-syarat yang ditentukan oleh Bukhari untuk menilai sebuah hadis sehingga masuk ke dalam golongan hadis sahih. Syarat-syarat berikut adalah kriteria hadis sahih, yaitu:
1.      Perawinya dhabith, yaitu seorang perawi harus sempurna hafalannya.
2.     Perawinya ‘adalah, yaitu seorang perawi harus muslim, baligh, berakal sehat, tidak fasik, dan berperangai baik.
3.      Sanadnya muttashil, yaitu sanadnya bersambung kepada Nabi.
4. Hadisnya tidak syadz, yaitu tidak menyelisihi perawi yang lebih tsiqqah (terpercaya).
5.   Tidak ada ‘illat, yaitu tidak ada cacatnya yang bisa merusak status kesahihan hadis.

Ada kriteria lain yang oleh imam Bukhari menjadi hal penting dalam menentukan sebuah hadis masuk dalam kriteria sahih, yaitu tentang pertemuan perawi. Imam Bukhari memandang bahwa tidaklah cukup jika seorang perawi hanya hidup semasa (al-mu’ashirah) dengan orang yang darinya diriwayatkan hadis, tetapi disyaratkan juga antara keduanya pernah bertemu (al-liqa’) walaupun hanya sekali. Tidak hanya itu, kitab hasil karyanya itu oleh imam Bukhari sendiri telah “dihadapkan”kepada guru-gurunya, antara lain Yahya bin Ma’in (w.233H), Ali bin al-Madini (w.235H), dan Ahmad bin Hanbal (w. 241H).
e)      Sistematika kitab Sahih Bukhari
Imam Bukhari menyusun kitabnya berdasarkan sitematika kitab fikih, karena ia juga dikenal sebagai ulama fikih di samping sebagai ulama hadis. Bab kitabnya berdasarkan pembahasan persoalan fikih. Kitab Sahih Bukhari terbagi ke dalam beberapa bab yang disebut dengan “kitab”. Bab yang disebut dengan kitab ini pun dibagi menjadi beberapa bagian yang disebut dengan “bab” yang dalam bahasa indonesia mungkin disebut dengan “pasal”. Misal Kitab: al-Wudhu’, Bab: Fadhȃ’il al-whudhȗ’. Secara keseluruhan, kitab Sahih Bukhari terdiri atas lebih dari 100 kitab dan 3450 bab.
Di dalam kitabnya ini, imam Bukhari juga sering mengulang penulisan beberapa hadis (mukarrar) dan juga tidak mengulangnya. Hadis yang diulang karena memang membahas berbagai persoalan sehingga bisa muncul tidak hanya di satu bab pembahasan.
Ibnu Shalah dan imam Nawawi menuturkan bahwa dalam kitab Sahih Bukhari terdapat 7.275 hadis sahih termasuk hadis yang diulang, jika tidak masuk hadis yang diulang, maka jumlah hadisnya adalah 4.000 hadis.  Jumlah ini merupakan saringan dari 600.000 hadis yang diperolehnya dari  90.000 guru selama 16 tahun. Sebuah kerja ilmiah yang luar biasa. Oleh karena itu, imam Bukhari mengatakan “Aku tidak memasukkan ke dalam al-Jȃmi’ as-Shahȋh ini kecuali hadis yang sahih, dan ku tinggalkan  hadis yang sahih karena akan terlalu panjang”.
Adapun manfaat mengulang hadis adalah memperbanyak thariqah (jalur) sanad hadis, atau untuk mengingat adanya perbedaan lafaz atau matan, atau adanya sebagian perawi yang meriwayatkan hadis secara mu’an’an, padahal dalam riwayat lain ia menggunakan kata sami’tu sebagai ganti kata ‘an. Manfaat pengulangan ini dapat dilihat oleh ahli para hadis.

f)       Kitab-kitab Syrah (penjelasan) dan Mukhtasar (ringkasan) atas kitab Shahȋh al-Bukhȃri
Sesuatu yang luar biasa akan melahirkan banyak inspirasi. Begitu pula dengan kitab Shahȋh Bukhari. Kedudukan yang tinggi dan terhormat atas kitab ini di kalangan ulama khususnya, dan umat islam pada umumnya menjadikan ia sumber inspirasi bagi lahirnya kitab-kitab lain. 
Para ulama merasa perlu adanya penjelasan (syarh) dan ringkasan (mukhtasar) dari kitab ini untuk memenuhi kepentingan umat. Para ulama merasa sangat penting menghadirkan dan menyajikan kitab Shahȋh Bukhari ini agar bisa dinikmati oleh kaum muslimin sebagai salah satu kitab  rujukan yang utama setelah al-Qur’an. Maka muncullah kitab syarah dan mukhtasar atas kitab Shahȋh Bukhari ini.
Di antara kita-kitab Syarah-nya ialah:
1. Kitab al-Kawȃkib ad-Durar fȋ Syarh Shahȋh al-Bukhȃriy oleh Syamsuddin Muhammad bin Yusuf bin Ali al-Kirmaniy (w.786H).
2.      Kitab Fath al-Bȃriy Syarh Shahȋh al-Bukhȃriy oleh imam al-Hafizh Abi al-Fadhal Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Hajar al-‘Asqalaniy (w.852H).
3.      Kitab ‘Umdah al-Qȃriy oleh Syaikh Badr ad-Din  Mahmud bin Ahmad  al-Aini al-Hanafi (w. 855H).
4.      Kitab Irsyȃd as-Sȃriy ila Shahȋh al-Bukhȃriy oleh Syaikh Syihab ad-Din Ahmad bin Muhammad al-Khatib al-Misr as-Syafi’iy atau dikenal dengan nama al-Qastallaniy (w. 922H).
Adapun kitab-kitab mukhtasar antara lain:
1.      Kitab Bahjah an-Nufȗs wa Ghȃyatuha oleh Syaikh Abu Muhammad Abdullah bin Sa’ad bin Abi Jmarah al-Andalusiy (w. 695H).
2.  Kitab at-Tajrȋd ash-Sharȋh li Ahȃdȋts al-Jȃmi’ as-Shahȋh oleh Zainuddin Abdul Abbas Ahmad bin Abdul lathif asy-Syarij az-Zabidi (w. 893 H).
  


 Padang di penghujung malam
 Minggu,  2 Muharram 1436 H 

*DESRI NENGSIH*